Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Tentang Empati

Gambar
  Saya tidak pernah benar-benar berniat menjadikan kucing sebagai konten , atau menjadi sebuah tulisan. Awalnya sederhana. Saya hanya ingin merawat. Memberi makan yang layak. Memastikan mereka sehat. Membersihkan luka kecil. Menyediakan rumah yang hangat. Tidak lebih. Tapi hidup sering kali bertumbuh dari hal-hal yang tidak kita rencanakan. Dari rutinitas kecil itu, datang hal-hal lain: rasa lelah, rasa rindu, kekhawatiran saat mereka sakit, dan pelajaran-pelajaran hidup yang tidak pernah saya temukan di tempat lain. Merawat kucing mengajarkan saya satu hal penting: cinta tidak selalu bersuara, tapi selalu konsisten . Ia tidak berisik. Tidak meminta tepuk tangan. Tidak butuh pengakuan. Ia hadir dalam bentuk mangkuk makan yang terisi tepat waktu. Dalam tangan yang tetap lembut meski tubuh sedang letih. Dalam keputusan untuk tetap peduli, bahkan ketika tidak semua orang mengerti. Ada hari-hari di mana saya capek. Capek menjelaskan kenapa kucing jalanan juga layak sehat. Ca...

Ramadan dan Kenangan

Gambar
Ini tahun pertama tanpa langkah kecilmu, Leon, tanpa dengkur halus di sudut sajadah. Ibu belajar kuat, meski hati sering runtuh, sebab rumah terasa sepi tanpa hadirmu yang menenangkan. Ramadan tahun ini, ada ruang kosong yang tak bisa Ibu abaikan. Dulu engkau setia duduk saat sahur menjelang pagi, mata beningmu menatap, seolah ikut berdoa. Waktu berbuka, engkau pun selalu paling sabar menunggu, tak ribut, tak meminta. ‎ Kini adzan terdengar begitu panjang, karena namamu tak lagi menjawab dalam ruang kenang. Lebaran nanti pun akan terasa berbeda, tak ada engkau yang menyambut Ibu dengan manja selepas salat Ied. Namun Ibu percaya, kasih tak pernah benar-benar pergi, ia tinggal sebagai doa, sebagai rindu, sebagai sunyi. ‎ Jika surga punya sudut paling damai di sana,tinggallah dengan bahagia, tanpa sakit dan luka, doakan Ibu dari jauh, seperti dulu kau setia menemani setiap waktu  

Ruang Rindu

Gambar
  Leon, bila ikhtiar Ibu gugur di bumi fana, ‎ bila doa tak sempat menjelma bahagia, ‎ izinkan harap berlayar melewati semesta, ‎ mencari takdir di batas dunia yang berbeda. ‎ ‎ Jika raga tak sembuh di kehidupan ini, ‎ jika pertemuan kita harus berhenti di sini, ‎ bolehkah Ibu percaya pada kisah yang sunyi, ‎ tentang jiwa yang pulang, lalu terlahir kembali. ‎ ‎ Andai reinkarnasi memang nyata adanya, ‎ datanglah lagi ke dunia dengan cahaya sempurna, ‎ menjadi bayi laki-laki bermata penuh cahaya, ‎ tampan, suci, tanpa luka dan derita. ‎ ‎ Dan kelak, saat mata kita saling bertemu, ‎ hati Ibu akan bergetar tanpa ragu, ‎ tanpa perlu nama, tanpa perlu waktu, ‎ Ibu tahu, itu adalah engkau, ‎ yang pulang dengan wujud baru. ‎ ‎ Ruang Rindu ‎ Di sudut kota Jakarta, 15 November 2025

Bagian Akhir: Please, Don't Go

Gambar
                            Foto terakhir kebersamaan kami, Leon pergi dalam pelukan saya Minggu, 23 November 2025, pukul 23.45. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tidur Leon, tiba-tiba wangi pandan semerbak memenuhi udara , l embut, manis, namun begitu jelas. Awalnya saya mencoba berpikir logis. Mungkin aroma itu datang dari luar kamar. Jendela memang tepat menghadap jalanan; bisa saja ada musang yang lewat, atau entah apa yang terbawa angin malam. Namun, semakin saya mencoba menepisnya, semakin firasat itu mengetuk pelan di dalam dada. Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat harum yang tak biasa itu. Aroma tersebut tidak sekadar lewat dan hilang. Ia tinggal. Bertahan sekitar tiga puluh menit. Mengisi ruang, memenuhi napas, menyentuh ingatan. Waktu terasa melambat, dan saya hanya bisa diam , mencoba memahami rasa yang tak mampu dijelaskan oleh logika. Rabu, 26 November 2025, pukul 08.00...

Epilog: Untuk Para Pejuang Anabul, dari Saya dan Leon

Gambar
  FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease) adalah mimpi buruk yang diam-diam bisa datang ke kucing kita, terutama kucing jantan yang sudah dewasa. Salah satu pemicunya bisa dari stres, pola makan, hingga faktor genetik. Dalam kasus Leon, stres karena konflik dengan kucing lain menjadi pemicu awal dari semua penderitaan panjangnya. Yang membuatnya makin rumit adalah saat FLUTD terjadi bersamaan dengan gangguan fungsi ginjal. Saat ginjal sudah rusak, pemberian obat dan makanan tidak bisa sembarangan. Bahkan banyak obat yang biasanya aman, justru berisiko memperparah kondisi ginjal. Di titik inilah, peran dokter hewan yang peka dan berpengalaman sangat penting. Jika kucing Anda mulai menunjukkan tanda-tanda seperti mengejan di litter box tapi tidak keluar urin, urin berdarah, atau sering bolak-balik ke litter box , jangan tunda. Segera periksakan ke dokter hewan. Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan untuk sembuh tanpa komplikasi parah. Untuk pencegahan: - Pastikan k...

Bagian 10: Leon Hari Ini

Gambar
  Dalam diamnya, saya belajar tentang kesetiaan tanpa syarat   Hari ini, Leon masih ada di sisi saya. Ia tidak lagi seperti dulu, aktif, lincah, penuh rasa ingin tahu. Kini ia lebih banyak diam, tubuhnya lemah, tapi matanya masih menyala. Menatap saya dengan pandangan yang tak bisa saya terjemahkan, tapi selalu bisa saya rasakan. Setiap hari saya menyuapinya dengan tangan sendiri. Membersihkan tubuhnya perlahan, memastikan ia tetap hangat dan nyaman. Saya mengajaknya berbicara, menceritakan hal-hal kecil yang terjadi hari itu, atau sekadar mengelus punggungnya sambil berbisik, “Terima kasih, Leon, sudah bertahan sejauh ini.” Kadang saya bercanda, berpura-pura kesal karena dia memuntahkan makanannya . Tapi ia hanya menatap saya. Pandangan itu seperti mengatakan, “Aku masih ingin di sini.” Dan itu cukup. Saya tidak tahu sampai kapan Leon bisa bertahan. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu batas waktu. Tapi setiap hari saya memilih untuk percaya, bahwa selama ia masih menatap, ...

Bagian 9: Bertahan untuk Leon

Gambar
  Ketika cinta diuji oleh kenyataan yang tak pernah ringan.   Tidak ada yang benar-benar mudah sejak Leon sakit. Meski sudah operasi, meski sudah pindah ke rumah baru yang lebih tenang, perjuangan belum selesai. Setiap hari adalah pertarungan, antara kewajiban, kondisi, dan kemampuan saya yang terbatas. Saya bekerja freelance. Penghasilan tidak tetap, kadang ada, kadang tidak. Tapi kebutuhan tidak pernah menunggu. Anak-anak saya, termasuk Leon, tetap harus makan, tetap harus sehat, tetap butuh saya. Terutama Leon, yang makanannya harus khusus dan suplemennya tidak bisa asal. Ada satu masa, Leon harus berhenti minum suplemen ginjalnya karena saya benar-benar tidak punya uang. Sehari, dua hari, lalu seminggu. Dan pada minggu keempat, tubuhnya mulai melemah. Ia kembali murung, tak banyak bergerak, dan terlihat seperti kehilangan energi. Saya panik. Saya merasa seperti gagal untuk kesekian kalinya. Dan ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Leon lapar, dan k...

Bagian 8: Janji yang Saya Bisikkan di Telinganya

Gambar
  Pemulihan bukan hanya tentang luka yang sembuh, tapi juga tentang hati yang tenang   Setelah 17 hari Leon dirawat di klinik pasca operasi ulang, saya memutuskan untuk membawanya pulang. Bukan karena ia sudah sepenuhnya sembuh, tapi karena saya percaya: rumah adalah tempat terbaik untuk menyembuhkan hati, dan tubuh akan ikut menyusul. Hari itu saya menatap Leon yang masih lemah di dalam box-nya. Sebelum keluar dari klinik, saya membisikkan satu janji di telinganya, “Nanti kita pindah ke rumah baru ya, yang ada kamar khusus untuk kamu. Supaya kamu bisa tenang dan nyaman.” Entah ia mengerti atau tidak, tapi Leon menatap saya dengan mata yang lembut. Dan saya tahu, dia mendengar. Selama perawatan di rumah, saya tidak berani membersihkan luka Leon sendiri. Bukan karena tidak ingin, tapi saya belum sanggup melihat luka itu secara langsung tanpa runtuh. Maka setiap pagi dan malam, saya menggunakan jasa paramedis profesional yang datang ke rumah untuk membantu membersihkan l...

Bagian 7: Luka Kedua, Luka yang Nyaris Membuat Saya Jatuh

Gambar
  Setelah diselamatkan, Leon masih harus berjuang, dan saya pun begitu   Saya pikir setelah operasi malam itu, Leon tinggal butuh waktu untuk pulih. Tapi saya salah. Ternyata perjuangan belum selesai. Bahkan bisa dibilang, baru saja dimulai. Pasca operasi PU, kondisi Leon harus dipantau ketat. Setiap obat yang masuk harus diperhitungkan dengan cermat karena ada satu masalah besar yang ikut membayangi: fungsi ginjal Leon sudah rusak. Obat yang umum diberikan pasca operasi tidak semua bisa digunakan. Dokter harus menyesuaikan dosis dan jenis, agar tidak memperburuk kondisi ginjalnya. Saya harus ekstra hati-hati, karena sekali salah bisa fatal. Saya belajar dari nol: memahami kandungan suplemen, membaca ulang label makanan, mencatat reaksi tubuh Leon setelah setiap pemberian obat. Namun ujian belum berakhir. Di hari ketujuh pasca operasi, luka bekas operasinya infeksi dan jahitan terbuka. Saat saya melihat darah dan cairan mulai keluar, tubuh saya gemetar. Leon harus di...

Bagian 6: Antara Hidup dan Mati, dan Memilih Tempat yang Benar

Gambar
  Karena kadang yang kita butuhkan bukan cuma dokter, tapi dokter yang benar.   Saya selalu percaya bahwa setiap nyawa layak diperjuangkan. Tapi perjuangan itu bisa jadi makin berat jika kita salah memilih tempat untuk memulainya. Setelah Leon menunjukkan gejala kritis yang tak bisa ditangani dengan kateter, saya membawanya ke klinik terdekat. Saat itu saya panik. Saya hanya ingin ia segera ditangani. Tapi justru di sinilah saya mendapat pelajaran paling berharga: tidak semua klinik tahu apa yang mereka lakukan. Dokter di sana mencoba memasang kateter. Tapi gagal. Dua kali. Tiga kali. Entah apa yang sebenarnya terjadi, apakah tekniknya salah, atau memang sudah terlambat. Tapi yang membuat saya kecewa bukan hanya itu. Saat Leon lemas, dengan lidah mulai membiru, penis membengkak dan menghitam, dokter malah berkata, “Coba ibu bicara dari hati ke hati dengan Leon, mungkin ini saatnya.” Seolah-olah saya sedang diminta mengucapkan selamat tinggal. Padahal saya tahu, Leon ...

Bagian 5: Luka Saya, Luka Leon

Gambar
  Ketika dua tubuh sakit tinggal dalam satu ruang kecil bernama harapan   Saya pindah ke Bekasi bukan karena ingin. Tapi karena keadaan memaksa. Usaha yang saya jalankan selama bertahun-tahun hancur karena pandemi. Dalam diam saya mengemasi barang, menyusun kekuatan, dan membawa semua anabul ke tempat yang belum tentu memberi kepastian, Bekasi. Saya pikir, di Bekasi saya bisa mulai dari nol. Saya melamar ke sana-sini, kirim portofolio, mencoba bertahan hidup. Tapi enam bulan berjalan, tak satu pun pintu terbuka. Dan saat saya mulai lelah, tubuh saya sendiri memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang tak beres. Perut saya membesar, tapi bukan karena berat badan. Pemeriksaan demi pemeriksaan saya jalani, dan akhirnya diketahui: ada tumor sebesar kepala bayi di dalam rahim saya. Myoma . Sudah lama bercokol tanpa saya sadari, mungkin tumbuh bersama stres dan tekanan yang tak pernah sempat saya keluarkan. Pertengahan 2024 saya menjalani operasi besar: pengangkatan myoma . Tub...

Bagian 4: Awal Musibah Itu Bernama Aras

Gambar
Ketika luka tak hanya di tubuh, tapi juga di hati Leon   Tahun 2024 saya memutuskan pindah ke Bekasi. Semua anabul ikut serta, termasuk Leon. Saya pikir, selama bersama, kami bisa melewati apa pun. Tapi saya tak pernah menyangka, justru sejak langkah pertama di rumah baru, kehidupan Leon akan berubah selamanya. Rumah kontrakan itu hanya memiliki dua kamar tidur. Satu saya pakai untuk tidur, satu lagi saya khususkan untuk Aras, salah satu anabul saya yang memang sulit akur dengan kucing lain. Leon dan yang lainnya biasa saya tempatkan di ruang tengah. Mereka biasanya damai. Tapi hari itu tidak. Saya sedang di luar rumah, bercakap dengan seorang ibu tetangga yang mampir. Obrolan biasa, hal sehari-hari. Tapi tiba-tiba, saya mendengar suara teriakan kucing. Bukan suara biasa—teriakan itu seperti jeritan penuh rasa sakit dan panik. Saya langsung lari masuk. Di dalam, saya lihat Leon sedang terpojok. Aras menyerangnya. Entah karena apa. Saya pisahkan mereka secepat mungkin, tapi kerusaka...

Bagian 3: Kebiasaan Kecil yang Membuat Tertawa

Gambar
                         Makan seperti raja, buang air harus ditemani   Setiap hewan punya kebiasaannya sendiri. Dan Leon, si kucing “tak dijemput itu,” punya banyak sekali keunikan yang tak pernah gagal membuat saya tertawa, atau menggelengkan kepala sambil tersenyum. Pertama, soal makan. Leon punya nafsu makan yang besar. Ia makan dengan lahap dan tidak pernah menyisakan. Setiap kali saya menyajikan makanannya, ia akan langsung datang seolah tahu bahwa itu adalah momen favoritnya. Bahkan kadang belum saya letakkan sepenuhnya di lantai, kepalanya sudah nyodok duluan. Tidak pilih-pilih makanan, selama aromanya kuat dan teksturnya lembut, Leon akan sikat habis. Tapi urusan buang air, itu lain cerita. Leon tidak bisa buang air sendiri tanpa “ditemani”. Ya, benar-benar ditemani. Kalau saya tidak ikut berdiri atau duduk dekat litter box-nya, dia akan mondar-mandir gelisah. Kadang mengeong sambil menatap saya seper...

Bagian 2: Hari-hari Bahagia

Gambar
  Dari luka menjadi pelukan. Dari takut menjadi percaya. Hari-hari pertama bersama Leon adalah masa penuh adaptasi, tapi juga penuh kejutan kecil yang membuat saya tersenyum tanpa sadar. Meski tubuhnya masih lemah dan kondisi kulitnya belum pulih sepenuhnya, Leon mulai menunjukkan sisi manis dan lucunya. Ia bukan kucing yang rewel atau terlalu aktif. Tapi ada sesuatu dari tatapannya, diam, penuh rasa ingin tahu, namun sekaligus mengamati dengan hati-hati. Seolah ia sedang menilai, “Apakah aku benar-benar aman di sini?” Saya mulai membuat rutinitas kecil bersamanya. Setiap pagi, saya menyeka tubuhnya dengan air hangat dan sabun khusus agar jamur di kulitnya tidak semakin parah. Saya bersihkan telinganya, hidungnya, dan saya berikan makanan basah yang ia sukai. Awalnya, ia makan perlahan. Tapi setiap hari, porsi itu habis lebih cepat. Badannya mulai berisi. Matanya mulai berbinar. Leon mulai menjelajah sudut-sudut rumah. Ia suka naik ke atas kursi, lalu duduk diam seperti raja ...

Bagian 1: Saat Leon Datang

Gambar
  Pertemuan yang tak direncanakan, namun mengubah segalanya   Leon datang ke hidup saya bukan karena saya mencarinya. Ia tidak dibeli, tidak juga saya pungut dari jalanan. Leon dibawa ke rumah oleh adik angkat saya saat saya masih tinggal di Solo. Saat itu, adik saya sedang menjalankan usaha jasa penitipan kucing. Leon adalah salah satu kucing yang dititipkan oleh seorang perempuan asal Jogja yang sedang berwisata ke Solo. Tapi setelah hari-hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, perempuan itu tak pernah kembali. Leon tidak pernah dijemput. Awalnya, ia bukan bernama Leon. Nama itu saya berikan setelah ia resmi menjadi bagian dari rumah ini. Karena bagi saya, nama adalah awal dari ikatan. Dan sejak saat itu, saya tahu, saya tidak hanya merawat seekor kucing tak berpemilik, saya sedang membangun hubungan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “kasih sayang”. Leon datang dalam keadaan yang tidak baik. Tubuhnya kurus kering, penuh jamur di beberapa bagian, t...

Prolog

Gambar
Namanya bukan Leon saat pertama kali saya mengenalnya. Tubuhnya kurus, jamuran, dengan telinga dan hidung yang kotor. Namun ada sesuatu di matanya, semacam kelelahan, atau mungkin harapan yang tersisa. Saya tak tahu pasti kapan cinta itu tumbuh. Tapi sejak saya mengganti namanya menjadi Leon, saya tahu… saya bertanggung jawab atas hidupnya. Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Ada luka, ada kegagalan, ada kehilangan, dan terlalu banyak air mata yang tak terlihat siapa pun. Ada juga keputusan-keputusan sulit yang harus diambil saat dompet kosong, saat tubuh lelah, saat tak ada satu pun yang menjawab ketika saya mengetuk pintu pertolongan. Namun dalam semua itu, saya belajar, bahwa hidup bersama makhluk yang tak bisa bicara justru membuat saya lebih mampu mendengar. Bahwa merawat dengan cinta bukan hanya tentang memberi makan atau menyediakan tempat tidur, tapi juga tentang hadir, bertahan, dan memilih untuk tidak menyerah. Kisah ini adalah catatan hati. Tentang Leon...