Bagian 10: Leon Hari Ini
Hari
ini, Leon masih ada di sisi saya. Ia tidak lagi seperti dulu, aktif, lincah,
penuh rasa ingin tahu. Kini ia lebih banyak diam, tubuhnya lemah, tapi matanya
masih menyala. Menatap saya dengan pandangan yang tak bisa saya terjemahkan,
tapi selalu bisa saya rasakan.
Setiap
hari saya menyuapinya dengan tangan sendiri. Membersihkan tubuhnya perlahan,
memastikan ia tetap hangat dan nyaman. Saya mengajaknya berbicara, menceritakan
hal-hal kecil yang terjadi hari itu, atau sekadar mengelus punggungnya sambil
berbisik, “Terima kasih, Leon, sudah bertahan sejauh ini.”
Kadang
saya bercanda, berpura-pura kesal karena dia memuntahkan makanannya. Tapi
ia hanya menatap saya. Pandangan itu seperti mengatakan, “Aku masih ingin di
sini.” Dan itu cukup.
Saya
tidak tahu sampai kapan Leon bisa bertahan. Tidak ada satu pun dari kita yang
tahu batas waktu. Tapi setiap hari saya memilih untuk percaya, bahwa selama ia
masih menatap, masih merespons, masih bernapas, maka saya akan terus ada.
Harapan
saya tetap tinggi. Saya ingin bangkit, kembali stabil secara ekonomi, mencukupi
kebutuhan semua anak-anak saya tanpa lagi harus menangis diam-diam karena tidak
bisa beli makanan khusus atau suplemen. Saya ingin membelikan mereka rumah
kontainer yang layak, tempat tinggal yang tetap, bukan kontrakan yang selalu
berpindah.
Saya
ingin Leon tahu bahwa semua ini sedang saya perjuangkan. Dan kalau pun nanti waktunya
tiba, saya ingin dia pergi dengan tenang, dalam pelukan saya, tahu bahwa sampai
napas terakhirnya, ia tidak pernah sendirian.
Tapi
untuk hari ini, saya bersyukur. Karena Leon masih di sini. Bersama saya.
Dan
itu cukup.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar