Bagian 9: Bertahan untuk Leon

 



Ketika cinta diuji oleh kenyataan yang tak pernah ringan.

 

Tidak ada yang benar-benar mudah sejak Leon sakit. Meski sudah operasi, meski sudah pindah ke rumah baru yang lebih tenang, perjuangan belum selesai. Setiap hari adalah pertarungan, antara kewajiban, kondisi, dan kemampuan saya yang terbatas.

Saya bekerja freelance. Penghasilan tidak tetap, kadang ada, kadang tidak. Tapi kebutuhan tidak pernah menunggu. Anak-anak saya, termasuk Leon, tetap harus makan, tetap harus sehat, tetap butuh saya. Terutama Leon, yang makanannya harus khusus dan suplemennya tidak bisa asal.

Ada satu masa, Leon harus berhenti minum suplemen ginjalnya karena saya benar-benar tidak punya uang. Sehari, dua hari, lalu seminggu. Dan pada minggu keempat, tubuhnya mulai melemah. Ia kembali murung, tak banyak bergerak, dan terlihat seperti kehilangan energi. Saya panik. Saya merasa seperti gagal untuk kesekian kalinya.

Dan ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Leon lapar, dan karena makanannya habis, ia mengambil makanan milik saudara kucingnya yang lain. Makanan biasa. Saya tahu makanan itu tidak baik untuk ginjalnya. Tapi saya juga tahu: dia lapar. Dan saya tidak punya apa-apa malam itu untuk menghentikannya.

Saya hanya bisa memandang dari kejauhan. Lalu pergi ke dapur. Menangis dalam diam.

Saya tahu banyak orang akan berkata, "Kalau tidak mampu, kenapa pelihara?" Tapi mereka tidak tahu, saya tidak memelihara. Saya merawat makhluk yang pernah ditinggalkan, yang pernah kehilangan, dan yang sekarang hidupnya sepenuhnya bergantung pada saya. Mana mungkin saya tinggalkan?

Saya tidak kaya. Tapi saya bertahan. Dengan cara apa pun.

Untungnya, selalu ada tangan-tangan yang membantu di saat saya benar-benar jatuh. Kakak angkat, ibu angkat, saudara jauh, bahkan teman-teman lama yang tiba-tiba bertanya kabar. Tuhan memang tidak selalu memberi kelimpahan, tapi selalu memberi cukup agar saya dan Leon bisa melewati hari itu. Dan satu hari lagi. Dan satu hari lagi.

Leon mungkin tidak tahu seberapa berat perjuangan saya. Tapi saya tahu satu hal: dia ingin hidup. Dan itu cukup untuk membuat saya terus bertahan.

Karena ternyata, cinta bukan soal punya segalanya. Tapi soal tetap memilih bertahan, bahkan ketika tidak punya apa-apa.

 

 

 

 

 

 


Komentar

Yang Banyak Dibaca

Bagian 2: Hari-hari Bahagia

Bagian 6: Antara Hidup dan Mati, dan Memilih Tempat yang Benar