Bagian 6: Antara Hidup dan Mati, dan Memilih Tempat yang Benar
Karena kadang yang kita butuhkan bukan cuma dokter, tapi
dokter yang benar.
Saya
selalu percaya bahwa setiap nyawa layak diperjuangkan. Tapi perjuangan itu bisa
jadi makin berat jika kita salah memilih tempat untuk memulainya.
Setelah Leon menunjukkan gejala kritis yang tak bisa ditangani dengan kateter, saya
membawanya ke klinik terdekat. Saat itu saya panik. Saya hanya ingin ia segera
ditangani. Tapi justru di sinilah saya mendapat pelajaran paling berharga:
tidak semua klinik tahu apa yang mereka lakukan.
Dokter
di sana mencoba memasang kateter. Tapi gagal. Dua kali. Tiga kali. Entah apa
yang sebenarnya terjadi, apakah tekniknya salah, atau memang sudah terlambat.
Tapi yang membuat saya kecewa bukan hanya itu. Saat Leon lemas, dengan lidah
mulai membiru, penis membengkak dan menghitam, dokter malah berkata, “Coba ibu
bicara dari hati ke hati dengan Leon, mungkin ini saatnya.”
Seolah-olah
saya sedang diminta mengucapkan selamat tinggal. Padahal saya tahu, Leon belum
menyerah. Dan saya juga belum siap menyerah.
Saya
keluar dari ruangan itu dengan hati patah dan pikiran berkabut. Tapi Tuhan
baik. Kakak angkat saya, yang selalu hadir di saat saya paling butuh,
menawarkan bantuan transportasi untuk membawa Leon ke klinik lain, klinik yang
sudah lebih berpengalaman menangani kasus berat.
Kami
menembus malam dan kemacetan, menuju klinik kedua. Sampai di sana pukul 8
malam, 30 April 2025. Tanpa banyak bicara, dokter langsung melakukan
pemeriksaan menyeluruh, tes darah, rontgen, dan menyiapkan tindakan darurat.
“Kita fokus menyelamatkan dulu ya, Bu,” kata dokter dengan tenang. Kata-kata
itu seperti cahaya di tengah lorong gelap.
Pukul
10 malam, Leon masuk ruang operasi.
Saya
duduk di ruang poli klinik, tepat di sebelah ruang operasi. Di luar hujan turun
pelan. Di dalam, hanya suara alat bantu napas yang terdengar sayup dari balik
dinding tipis. Setiap bunyi bip membuat dada saya sesak. Saya hanya bisa
menangis, berdoa, dan berharap, semoga Leon tahu, saya di sini. Saya menunggu.
Operasi
selesai pukul 1 dini hari.
Leon
selamat.
Dokter
bilang, operasinya berjalan cukup lancar, meski kondisi Leon saat itu sangat kritis. “Anaknya kuat, Bu. Dia berjuang,” ujar sang dokter. Dan saya tahu,
Leon memang anak hebat. Bahkan saat tubuhnya nyaris menyerah, hatinya tetap
ingin hidup.
Malam
itu saya belajar satu hal penting: ketika nyawa anabul kita sedang berada di
ujung tanduk, jangan hanya berharap pada keberuntungan. Pilih klinik yang punya
kompetensi, pengalaman, dan kemanusiaan.
Bukan
klinik yang menyerah sebelum berjuang. Bukan dokter yang berkata “bicaralah
dari hati ke hati”, saat yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
Leon
pantas diselamatkan. Dan malam itu, ia membuktikan, kehidupan layak
diperjuangkan sampai napas terakhir belum datang.

Komentar
Posting Komentar