Bagian 2: Hari-hari Bahagia
Hari-hari pertama bersama Leon adalah masa penuh adaptasi, tapi juga penuh kejutan kecil yang membuat saya tersenyum tanpa sadar. Meski tubuhnya masih lemah dan kondisi kulitnya belum pulih sepenuhnya, Leon mulai menunjukkan sisi manis dan lucunya. Ia bukan kucing yang rewel atau terlalu aktif. Tapi ada sesuatu dari tatapannya, diam, penuh rasa ingin tahu, namun sekaligus mengamati dengan hati-hati. Seolah ia sedang menilai, “Apakah aku benar-benar aman di sini?”
Saya
mulai membuat rutinitas kecil bersamanya. Setiap pagi, saya menyeka tubuhnya
dengan air hangat dan sabun khusus agar jamur di kulitnya tidak semakin parah.
Saya bersihkan telinganya, hidungnya, dan saya berikan makanan basah yang ia
sukai. Awalnya, ia makan perlahan. Tapi setiap hari, porsi itu habis lebih
cepat. Badannya mulai berisi. Matanya mulai berbinar.
Leon
mulai menjelajah sudut-sudut rumah. Ia suka naik ke atas kursi, lalu duduk diam
seperti raja kecil. Kadang ia mengeong pelan kalau saya pulang dari luar, atau
hanya sekadar mendekat lalu rebah di dekat kaki saya, tanpa suara. Tapi kehadirannya
terasa.
Saya
mulai jatuh cinta pada rutinitas sederhana ini.
Ada
satu momen yang selalu saya ingat. Suatu malam, ketika saya sedang duduk di
lantai membaca, Leon berjalan perlahan dan tidur tepat di paha saya. Ia
memejamkan mata dengan tubuh meringkuk. Saat itu saya tahu, ia sudah percaya.
Hari-hari
bahagia ini bukan tentang liburan atau kejutan besar. Tapi tentang kepercayaan
yang tumbuh, dan kasih sayang yang terbentuk dari luka dan pemulihan. Leon
mengajarkan saya bahwa kadang yang paling kita butuhkan bukan perlakuan luar
biasa, tapi kehadiran yang tulus.
Saya
tak tahu seberapa panjang waktu tenang ini akan bertahan. Tapi saat itu, kami
hanya hidup di hari ini. Hari di mana Leon tak lagi takut, dan saya merasa
punya alasan untuk tersenyum setiap hari.

Komentar
Posting Komentar