Bagian Akhir: Please, Don't Go
Minggu, 23 November 2025, pukul 23.45.
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tidur Leon, tiba-tiba
wangi pandan semerbak memenuhi udara, lembut, manis, namun begitu jelas. Awalnya saya mencoba berpikir logis. Mungkin aroma itu datang
dari luar kamar. Jendela memang tepat menghadap jalanan; bisa saja ada musang
yang lewat, atau entah apa yang terbawa angin malam.
Namun, semakin saya
mencoba menepisnya, semakin firasat itu mengetuk pelan di dalam dada. Seolah
ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat harum yang tak biasa itu. Aroma
tersebut tidak sekadar lewat dan hilang. Ia tinggal. Bertahan sekitar tiga
puluh menit. Mengisi ruang, memenuhi napas, menyentuh ingatan. Waktu terasa
melambat, dan saya hanya bisa
diam, mencoba memahami rasa
yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Rabu, 26 November 2025, pukul 08.00 WIB.
Pagi itu datang tanpa aba-aba yang cukup untuk menguatkan hati. Leon pergi. Pergi dengan cara yang meninggalkan luka sunyi, luka yang tak terlihat, namun terasa begitu nyata. Ia menyisakan genang kenang yang tak pernah benar-benar kering. Setiap sudut ruang seakan menyimpan jejaknya. Setiap benda memantulkan bayangannya.
Sakit itu tidak berdarah. Tidak ada yang bisa dilihat mata, namun ia
menghujam dalam, pelan,
tajam, dan menetap. Ada sesak yang tak menemukan jalan keluar. Ada rindu yang
tak tahu harus pulang ke mana. Dunia tetap berjalan seperti biasa, tapi ada
bagian dari hati yang berhenti tepat di pagi itu.
Kadang saya bertanya dalam
diam, adakah bahu yang bisa dipinjam? Bukan untuk menghapus luka, hanya untuk sekadar menahan tubuh yang
lelah menanggung lara yang tak juga usai. Untuk sejenak saja, sebelum saya kembali belajar berdiri dengan hati yang
tak lagi utuh.

Komentar
Posting Komentar