Prolog
Namanya bukan Leon saat pertama kali saya mengenalnya. Tubuhnya kurus, jamuran, dengan telinga dan hidung yang kotor. Namun ada sesuatu di matanya, semacam kelelahan, atau mungkin harapan yang tersisa.
Saya
tak tahu pasti kapan cinta itu tumbuh. Tapi sejak saya mengganti namanya
menjadi Leon, saya tahu… saya bertanggung jawab atas hidupnya.
Perjalanan
kami bukan perjalanan yang mudah. Ada luka, ada kegagalan, ada kehilangan, dan
terlalu banyak air mata yang tak terlihat siapa pun. Ada
juga keputusan-keputusan sulit yang harus diambil saat dompet kosong, saat tubuh
lelah, saat tak ada satu pun yang menjawab ketika saya mengetuk pintu
pertolongan.
Namun
dalam semua itu, saya belajar, bahwa hidup bersama makhluk yang tak bisa bicara
justru membuat saya lebih mampu mendengar.
Bahwa
merawat dengan cinta bukan hanya tentang memberi makan atau menyediakan tempat
tidur, tapi juga tentang hadir, bertahan, dan memilih untuk tidak menyerah.
Kisah
ini adalah catatan hati.
Tentang
Leon, dan tentang saya yang belajar menjadi manusia lebih utuh karenanya.

Komentar
Posting Komentar