Tentang Empati
Saya tidak pernah benar-benar
berniat menjadikan kucing sebagai konten,
atau menjadi sebuah tulisan. Awalnya sederhana. Saya hanya ingin merawat. Memberi
makan yang layak. Memastikan mereka sehat. Membersihkan luka kecil. Menyediakan
rumah yang hangat. Tidak lebih.
Tapi hidup sering kali bertumbuh
dari hal-hal yang tidak kita rencanakan. Dari rutinitas kecil itu, datang hal-hal lain: rasa
lelah, rasa rindu, kekhawatiran saat mereka sakit, dan pelajaran-pelajaran
hidup yang tidak pernah saya temukan di tempat lain.
Merawat kucing mengajarkan saya
satu hal penting:
cinta tidak selalu bersuara, tapi selalu konsisten. Ia tidak
berisik. Tidak meminta tepuk tangan. Tidak butuh pengakuan. Ia hadir dalam
bentuk mangkuk makan yang terisi tepat waktu. Dalam tangan yang tetap lembut
meski tubuh sedang letih. Dalam keputusan untuk tetap peduli, bahkan ketika tidak
semua orang mengerti.
Ada hari-hari di mana saya capek. Capek
menjelaskan kenapa kucing jalanan juga layak sehat. Capek mendengar
kalimat, “Ah, cuma kucing.”
Capek dianggap terlalu sensitif, terlalu peduli, terlalu memikirkan hal
kecil. Tapi
justru dari kelelahan itu saya belajar sesuatu yang lebih dalam: empati memang
tidak pernah populer, tapi selalu dibutuhkan.
Empati tidak selalu terlihat
keren. Tidak selalu mengundang sorotan. Ia sering berjalan pelan, sendirian, dan kadang dianggap
berlebihan. Namun
tanpa empati, dunia akan terasa jauh lebih dingin.
Di titik itulah saya memilih satu
arah. Saya
memilih untuk tetap bercerita.
Tetap jujur tentang lelahnya merawat. Tetap berbagi tentang bahagianya melihat mereka sembuh. Dan tetap
berpihak pada yang
tersia-sia, yang suaranya sering kalah keras dari hiruk-pikuk dunia.
Saya tidak tahu sejauh apa langkah
ini akan membawa saya.
Mungkin suatu hari, tulisan-tulisan ini hanya menjadi arsip sunyi di sudut
internet. Mungkin
suatu hari, ia tumbuh menjadi buku kecil yang dibaca oleh seseorang yang sedang
belajar peduli.
Mungkin juga cerita-cerita ini membuka jalan bantuan untuk kucing lain yang
belum sempat mendapatkan rumah.
Jika itu terjadi, bagi saya itu
bukan soal uang.
Itu tentang keberlanjutan.
Tentang memastikan bahwa empati tidak berhenti di satu orang, satu kucing,
satu cerita. Karena
saya percaya, kebaikan tidak harus keras untuk berdampak. Ia tidak perlu
berteriak. Tidak perlu membuktikan diri setiap waktu. Ia hanya harus
konsisten, dan diberi ruang untuk tumbuh.
Ruang itu bisa berupa rumah kecil. Bisa berupa
mangkuk makan sederhana.
Bisa juga berupa tulisan seperti ini. Dan jika
kamu masih di sini, membaca sampai akhir, di dunia yang serba cepat dan sering
terburu-buru, terima kasih.
Terima kasih sudah memilih untuk
berhenti sejenak.
Terima kasih sudah memilih peduli. Mungkin dari sinilah, satu cerita lagi dimulai.

Komentar
Posting Komentar