Bagian 5: Luka Saya, Luka Leon
Saya
pindah ke Bekasi bukan karena ingin. Tapi karena keadaan memaksa. Usaha yang
saya jalankan selama bertahun-tahun hancur karena pandemi. Dalam diam saya
mengemasi barang, menyusun kekuatan, dan membawa semua anabul ke tempat yang
belum tentu memberi kepastian, Bekasi.
Saya
pikir, di Bekasi saya bisa mulai dari nol. Saya melamar ke sana-sini, kirim
portofolio, mencoba bertahan hidup. Tapi enam bulan berjalan, tak satu pun
pintu terbuka. Dan saat saya mulai lelah, tubuh saya sendiri memberi isyarat bahwa
ada sesuatu yang tak beres.
Perut
saya membesar, tapi bukan karena berat badan. Pemeriksaan demi pemeriksaan saya
jalani, dan akhirnya diketahui: ada tumor sebesar kepala bayi di dalam rahim
saya. Myoma. Sudah lama bercokol tanpa saya sadari, mungkin tumbuh bersama
stres dan tekanan yang tak pernah sempat saya keluarkan.
Pertengahan
2024 saya menjalani operasi besar: pengangkatan myoma. Tubuh saya lemah. Tapi
pikiran saya lebih letih. Di saat saya ingin menyerah, saya ingat Leon. Ia
masih butuh saya.
Dari
Bekasi, saya pindah lagi ke Jakarta karena mendapat job freelance. Tidak besar,
tapi cukup untuk menyewa satu ruangan kecil di sebuah paviliun. Hanya satu
ruangan besar yang terdiri dari; ruang tidur, dapur mini, toilet, dan lorong kecil yang saya jadikan tempat jemur, dan penyimpanan barang. Saya dan
Leon, dalam satu ruang penuh batas, tapi juga berisi harapan.
Namun
musibah datang lagi.
Tinggal dalam satu ruangan berarti tidak ada lagi batas antara manusia yang sedang pulih, dan
kucing yang sedang berjuang. Di ruangan sempit itu, Leon mulai menunjukkan
tanda-tanda yang pernah saya lihat dulu: ia tidak mau pipis. Tapi kali ini,
lebih parah.
Saya
segera membawa Leon ke dokter. Tapi kabar buruk menunggu. Kali ini, kateter
tidak bisa lagi dipasang. Jalur pipisnya sudah benar-benar tersumbat.
Kondisinya sudah fatal.
Saya
terpaku. Hati saya seperti diiris. Di saat saya baru selesai mengobati tubuh
saya sendiri, kini saya harus menyaksikan Leon dalam kesakitan yang tak bisa ia
katakan. Hanya dari tatapannya saya tahu, ia minta tolong.
Dan
saya harus mengambil keputusan besar: menyetujui operasi PU (Perineal
Urethrostomy). Sebuah operasi besar yang mungkin menjadi satu-satunya cara agar
Leon bisa bertahan hidup.
Di
satu sisi, saya belum pulih. Di sisi lain, saya tahu: saya tidak akan bisa
memulihkan diri sepenuhnya kalau Leon pergi.
Karena
dalam sakit kami, kami saling bertahan. Dan dalam ruang kecil yang pengap dan
sederhana itu, cinta kami diuji, sekali lagi.

Komentar
Posting Komentar