Bagian 4: Awal Musibah Itu Bernama Aras




Ketika luka tak hanya di tubuh, tapi juga di hati Leon

 

Tahun 2024 saya memutuskan pindah ke Bekasi. Semua anabul ikut serta, termasuk Leon. Saya pikir, selama bersama, kami bisa melewati apa pun. Tapi saya tak pernah menyangka, justru sejak langkah pertama di rumah baru, kehidupan Leon akan berubah selamanya.

Rumah kontrakan itu hanya memiliki dua kamar tidur. Satu saya pakai untuk tidur, satu lagi saya khususkan untuk Aras, salah satu anabul saya yang memang sulit akur dengan kucing lain. Leon dan yang lainnya biasa saya tempatkan di ruang tengah. Mereka biasanya damai. Tapi hari itu tidak.

Saya sedang di luar rumah, bercakap dengan seorang ibu tetangga yang mampir. Obrolan biasa, hal sehari-hari. Tapi tiba-tiba, saya mendengar suara teriakan kucing. Bukan suara biasa—teriakan itu seperti jeritan penuh rasa sakit dan panik. Saya langsung lari masuk.

Di dalam, saya lihat Leon sedang terpojok. Aras menyerangnya. Entah karena apa. Saya pisahkan mereka secepat mungkin, tapi kerusakan sudah terjadi. Bukan luka fisik yang tampak, tapi ada yang retak dalam jiwa Leon.

Sejak hari itu, Leon berubah.

Ia tak mau pipis. Ia menjadi murung, tidak seperti biasanya. Hari pertama saya masih berharap itu hanya trauma ringan. Saya coba hibur, ajak bicara, elus perlahan, bahkan menemaninya seperti biasa ke litter box. Tapi tak ada hasil.

Hari kedua, masih belum pipis.

Hari ketiga, saya mulai panik. Saya tahu, ini bukan lagi sekadar stres biasa. Saya segera mencari dokter hewan, dan akhirnya membawanya ke vet. Di situlah untuk pertama kalinya, Leon dipasang kateter. Pipisnya sudah bercampur darah.

Saya tidak bisa berkata-kata. Saya hanya bisa menunduk, menahan tangis. Rasanya seperti gagal menjaga makhluk kecil yang sejak awal sudah saya janjikan akan saya lindungi.

Saya ingin marah—pada Aras, pada rumah yang sempit ini, pada keadaan yang memaksa kami hidup berdempetan. Tapi lebih dari semua itu, saya ingin marah pada takdir. Kenapa harus Leon?

Tapi marah pun tak menyembuhkan. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah bertahan. Untuk Leon.

Dan sejak saat itu, dimulailah perjalanan panjang kami, melawan penyakit yang tak hanya menyerang tubuh, tapi juga semangat hidup seekor kucing bernama Leon.

 

 

 

 

 


 

Komentar

Yang Banyak Dibaca

Bagian 9: Bertahan untuk Leon

Bagian 2: Hari-hari Bahagia

Bagian 6: Antara Hidup dan Mati, dan Memilih Tempat yang Benar