Postingan

Bagian 5: Luka Saya, Luka Leon

Gambar
  Ketika dua tubuh sakit tinggal dalam satu ruang kecil bernama harapan   Saya pindah ke Bekasi bukan karena ingin. Tapi karena keadaan memaksa. Usaha yang saya jalankan selama bertahun-tahun hancur karena pandemi. Dalam diam saya mengemasi barang, menyusun kekuatan, dan membawa semua anabul ke tempat yang belum tentu memberi kepastian, Bekasi. Saya pikir, di Bekasi saya bisa mulai dari nol. Saya melamar ke sana-sini, kirim portofolio, mencoba bertahan hidup. Tapi enam bulan berjalan, tak satu pun pintu terbuka. Dan saat saya mulai lelah, tubuh saya sendiri memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang tak beres. Perut saya membesar, tapi bukan karena berat badan. Pemeriksaan demi pemeriksaan saya jalani, dan akhirnya diketahui: ada tumor sebesar kepala bayi di dalam rahim saya. Myoma . Sudah lama bercokol tanpa saya sadari, mungkin tumbuh bersama stres dan tekanan yang tak pernah sempat saya keluarkan. Pertengahan 2024 saya menjalani operasi besar: pengangkatan myoma . Tub...

Bagian 4: Awal Musibah Itu Bernama Aras

Gambar
Ketika luka tak hanya di tubuh, tapi juga di hati Leon   Tahun 2024 saya memutuskan pindah ke Bekasi. Semua anabul ikut serta, termasuk Leon. Saya pikir, selama bersama, kami bisa melewati apa pun. Tapi saya tak pernah menyangka, justru sejak langkah pertama di rumah baru, kehidupan Leon akan berubah selamanya. Rumah kontrakan itu hanya memiliki dua kamar tidur. Satu saya pakai untuk tidur, satu lagi saya khususkan untuk Aras, salah satu anabul saya yang memang sulit akur dengan kucing lain. Leon dan yang lainnya biasa saya tempatkan di ruang tengah. Mereka biasanya damai. Tapi hari itu tidak. Saya sedang di luar rumah, bercakap dengan seorang ibu tetangga yang mampir. Obrolan biasa, hal sehari-hari. Tapi tiba-tiba, saya mendengar suara teriakan kucing. Bukan suara biasa—teriakan itu seperti jeritan penuh rasa sakit dan panik. Saya langsung lari masuk. Di dalam, saya lihat Leon sedang terpojok. Aras menyerangnya. Entah karena apa. Saya pisahkan mereka secepat mungkin, tapi kerusaka...

Bagian 3: Kebiasaan Kecil yang Membuat Tertawa

Gambar
                         Makan seperti raja, buang air harus ditemani   Setiap hewan punya kebiasaannya sendiri. Dan Leon, si kucing “tak dijemput itu,” punya banyak sekali keunikan yang tak pernah gagal membuat saya tertawa, atau menggelengkan kepala sambil tersenyum. Pertama, soal makan. Leon punya nafsu makan yang besar. Ia makan dengan lahap dan tidak pernah menyisakan. Setiap kali saya menyajikan makanannya, ia akan langsung datang seolah tahu bahwa itu adalah momen favoritnya. Bahkan kadang belum saya letakkan sepenuhnya di lantai, kepalanya sudah nyodok duluan. Tidak pilih-pilih makanan, selama aromanya kuat dan teksturnya lembut, Leon akan sikat habis. Tapi urusan buang air, itu lain cerita. Leon tidak bisa buang air sendiri tanpa “ditemani”. Ya, benar-benar ditemani. Kalau saya tidak ikut berdiri atau duduk dekat litter box-nya, dia akan mondar-mandir gelisah. Kadang mengeong sambil menatap saya seper...

Bagian 2: Hari-hari Bahagia

Gambar
  Dari luka menjadi pelukan. Dari takut menjadi percaya. Hari-hari pertama bersama Leon adalah masa penuh adaptasi, tapi juga penuh kejutan kecil yang membuat saya tersenyum tanpa sadar. Meski tubuhnya masih lemah dan kondisi kulitnya belum pulih sepenuhnya, Leon mulai menunjukkan sisi manis dan lucunya. Ia bukan kucing yang rewel atau terlalu aktif. Tapi ada sesuatu dari tatapannya, diam, penuh rasa ingin tahu, namun sekaligus mengamati dengan hati-hati. Seolah ia sedang menilai, “Apakah aku benar-benar aman di sini?” Saya mulai membuat rutinitas kecil bersamanya. Setiap pagi, saya menyeka tubuhnya dengan air hangat dan sabun khusus agar jamur di kulitnya tidak semakin parah. Saya bersihkan telinganya, hidungnya, dan saya berikan makanan basah yang ia sukai. Awalnya, ia makan perlahan. Tapi setiap hari, porsi itu habis lebih cepat. Badannya mulai berisi. Matanya mulai berbinar. Leon mulai menjelajah sudut-sudut rumah. Ia suka naik ke atas kursi, lalu duduk diam seperti raja ...

Bagian 1: Saat Leon Datang

Gambar
  Pertemuan yang tak direncanakan, namun mengubah segalanya   Leon datang ke hidup saya bukan karena saya mencarinya. Ia tidak dibeli, tidak juga saya pungut dari jalanan. Leon dibawa ke rumah oleh adik angkat saya saat saya masih tinggal di Solo. Saat itu, adik saya sedang menjalankan usaha jasa penitipan kucing. Leon adalah salah satu kucing yang dititipkan oleh seorang perempuan asal Jogja yang sedang berwisata ke Solo. Tapi setelah hari-hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, perempuan itu tak pernah kembali. Leon tidak pernah dijemput. Awalnya, ia bukan bernama Leon. Nama itu saya berikan setelah ia resmi menjadi bagian dari rumah ini. Karena bagi saya, nama adalah awal dari ikatan. Dan sejak saat itu, saya tahu, saya tidak hanya merawat seekor kucing tak berpemilik, saya sedang membangun hubungan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “kasih sayang”. Leon datang dalam keadaan yang tidak baik. Tubuhnya kurus kering, penuh jamur di beberapa bagian, t...

Prolog

Gambar
Namanya bukan Leon saat pertama kali saya mengenalnya. Tubuhnya kurus, jamuran, dengan telinga dan hidung yang kotor. Namun ada sesuatu di matanya, semacam kelelahan, atau mungkin harapan yang tersisa. Saya tak tahu pasti kapan cinta itu tumbuh. Tapi sejak saya mengganti namanya menjadi Leon, saya tahu… saya bertanggung jawab atas hidupnya. Perjalanan kami bukan perjalanan yang mudah. Ada luka, ada kegagalan, ada kehilangan, dan terlalu banyak air mata yang tak terlihat siapa pun. Ada juga keputusan-keputusan sulit yang harus diambil saat dompet kosong, saat tubuh lelah, saat tak ada satu pun yang menjawab ketika saya mengetuk pintu pertolongan. Namun dalam semua itu, saya belajar, bahwa hidup bersama makhluk yang tak bisa bicara justru membuat saya lebih mampu mendengar. Bahwa merawat dengan cinta bukan hanya tentang memberi makan atau menyediakan tempat tidur, tapi juga tentang hadir, bertahan, dan memilih untuk tidak menyerah. Kisah ini adalah catatan hati. Tentang Leon...

Prakata

Gambar
Menulis ebook ini bukanlah sesuatu yang pernah saya rencanakan. Namun, perjalanan bersama seekor kucing bernama Leon telah membawa saya pada banyak momen tak terduga, momen jatuh, bangkit, menangis dalam diam, berdoa tanpa suara, dan berjuang tanpa jeda. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang sakit dan sembuh. Ini adalah kisah tentang kasih, tentang keteguhan hati, dan tentang bagaimana makhluk kecil tanpa suara bisa mengubah hidup manusia yang menjaganya. Leon datang ke hidup saya bukan dengan gemerlap, tetapi dengan tubuh kurus, penuh jamur, dan luka yang tak kasatmata. Dia tak pernah dijemput kembali oleh pemilik sebelumnya, tapi justru menetap dan perlahan menjadi bagian dari keluarga . Dari Solo ke Bekasi, hingga ke Jakarta, Leon ikut dalam tiap babak hidup saya, bahkan ketika saya sendiri sedang terluka dan kehilangan arah. Lewat kisah Leon, saya tidak hanya ingin membagikan kisah, tetapi juga harapan. Harapan bahwa siapa pun yang membaca ini akan lebih peka, lebih bertan...

Pendahuluan: Untukmu Leon, Cinta dan Perjuangan

Gambar
Ebook ini kenangan tentang Leon, salah satu kucing saya yang telah tiada. Sakit FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease) atau kesulitan buang air kecil yang dideritanya hingga harus operasi PU (Perineal Urethrostomy) , dan hanya bertahan delapan bulan hidup pasca operasi.  Untuk cinta saya yang tak sempurna, untuk kesembuhan yang gagal saya upayakan, dan untuk penyemangat bagi para pawrent s yang anabulnya terkena FLUTD , hingga harus operasi PU (prosedur bedah untuk mengatasi penyumbatan saluran kemih/ obstruksi uretra berulang dengan membuat lubang kencing baru yang lebih lebar.